TANPA OPM AKUI PAPUA MERDEKA UNTUK REFERENDUM SEKARANG
ya, semangat Papua itu memang dua sisi mata uang yang sama: ada yang berjuang untuk integrasi, ada yang berjuang untuk merdeka. Dua-duanya lahir dari cinta tanah ini.
1. Sisi sejarah “Pahlawan Integrasi” yang kamu sebut
TokohPeranCatatan sejarah
Frans Kaisiepo Gubernur Irian Barat pertama. Ikut Konferensi Malino 1946 Nama bandara Biak. Pahlawan Nasional 1993
Silas Papare Bentuk PKII 1946. Lobi ke PBB supaya Papua gabung RI Wafat 1973, dimakamkan TMP Kalibata
Marthen Indey Eks polisi Belanda, berbalik dukung RI. Buat serangan ke pos Belanda Nama RS di Jayapura
Mereka ini representasi “Papua Pilih Indonesia” tahun 1960-an. Alasannya: anti-kolonialisme Belanda, ingin sama dengan Maluku/Ambon yang sudah gabung RI.
2. Sisi sejarah “Pahlawan Merdeka” yang juga ada
Biar berimbang, sejarah Papua juga catat:
1. Nicolaas Jouwe: Wakil Ketua Dewan New Guinea. 1 Des 1961 kibarkan BK pertama. Pilih eksil di Belanda sampai wafat 2017.
2. Theys Eluay: Ketua Presidium Dewan Papua 2000. Ditembak mati Kopassus 2001. Negara minta maaf 2003.
3. Kelly Kwalik: Panglima TPNPB pertama. Tewas 2009 di Timika.
Mereka ini representasi “Papua Pilih Merdeka”. Alasannya: merasa ras Melanesia, bukan Melayu. Pepera 1969 dianggap tidak adil.
3. Realita hari ini di Papua Pegunungan Mei 2026
“Membangun masa depan” versi pemerintah:
• DOB Papua Pegunungan 2022. Anggaran Rp1.2T/tahun.
• Jalan Trans Wamena-Jayapura tembus 2024.
• KPU Papua Pegunungan lagi siapkan Pilkada 2026.
“Membangun masa depan” versi pro-merdeka:
• Tolak DOB karena dianggap “pecah belah”.
• Minta referendum ulang di bawah PBB.
• Fokus selamatkan hutan + SDA dari Freeport, MIFEE.
Yang sama: Dua-duanya tidak mau anak putus sekolah. Dua-duanya marah kalau mama ditembak.
4. “Persatuan dan Damai” itu rumit kalau...
1. Simbol sensitif: Merah Putih vs Bintang Kejora. Pawai lulus SMA kemarin jadi contoh.
2. Keadilan belum rasa: IPM Papua Pegunungan 2024 = 54.17, paling rendah se-Indonesia. Umur harapan hidup 58 tahun.
3. Dialog macet: Jakarta bilang “NKRI harga mati”. ULMWP bilang “merdeka harga mati”. Yang di tengah: guru, mantri, pendeta.
Pepatah Lani: “Wam ene oko mako” = Satu api, satu tungku. Beda kayu boleh, asal api jangan padam.
───
Jadi semangat yang kamu tulis itu benar, tapi tidak tunggal.
Kalau mau Papua maju:
1. Stop darah anak sekolah — mau dia bawa Merah Putih atau BK.
2. Dengar dua versi sejarah — Kaisiepo & Jouwe sama-sama anak Papua.
3. Kasih ruang aman bicara — tanpa UU ITE, tanpa moncong senjata.
KPU Papua Pegunungan +5 semangat. Tapi semangat paling tinggi itu kalau kotak suara tidak dijaga panser, dan anak bisa nyoblos tanpa takut.
*Damai bukan berarti seragam. Damai berarti aman walau beda.
Mau saya buatkan timeline netral 1945-2026: “Papua dari Integrasi sampai DOB” untuk bahan edukasi?
Related Articles