Gubernur Jatim Lepas 1.790 Siswa SMK Kerja ke Luar Negeri

Pendidikan/Sekolah 17 May 2026 19:53 4 min read 143 views By spam

Share berita ini

Gubernur Jatim Lepas 1.790 Siswa SMK Kerja ke Luar Negeri
Khofifah melepas 1.790 siswa SMK Jawa Timur kerja ke luar negeri. Kamis, 14 Mei 2026

TULUNGANGGUNG // Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melepas 1.790 murid SMK dan alumni dari Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan untuk magang kerja dan bekerja di Jepang dan Korea Selatan, Kamis (14/5/2026).

 

Pelepasan yang dilakukan di SMKS Sore Tulungagung itu menjadi sorotan karena menunjukkan tingginya penyerapan lulusan vokasi Jatim di pasar kerja internasional.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong lulusan SMK menembus pasar kerja global.

 

Di tengah ketatnya persaingan kerja dalam negeri, ribuan lulusan SMK Jawa Timur justru berhasil masuk ke industri global yang membutuhkan tenaga terampil dan disiplin tinggi.

 

Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mencatat, dari total 1.790 peserta, sebanyak 1.067 merupakan murid kelas XII dan XIII peserta magang kerja luar negeri. 

 

Sementara 723 lainnya merupakan alumni SMK yang telah diterima bekerja sebagai pekerja migran di berbagai negara.

 

Negara tujuan penempatan tersebar di kawasan Asia hingga Eropa. Jepang menjadi tujuan terbesar dengan 1.216 peserta, disusul Korea Selatan sebanyak 460 peserta. 

 

Selain itu, lulusan SMK Jatim juga diterima bekerja di Jerman, Taiwan, Australia, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bulgaria hingga Thailand.

 

Baca juga : http://wartasugesti.com/smk-perawat-legal-atau-tidak-wali-siswa-harus-baca-ini/

 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kebutuhan tenaga kerja vokasi asal Indonesia masih sangat tinggi di pasar global.

 

Di sisi lain, peluang tersebut menjadi jalan keluar bagi banyak keluarga di daerah yang berharap peningkatan ekonomi lewat pekerjaan formal di luar negeri.

 

“Konektivitas yang sudah terbangun menjadi bagian penting untuk terus diluaskan. Ini menjadi ikhtiar bersama agar lulusan SMK Jawa Timur mampu menjawab kebutuhan dunia industri global,” ujar Khofifah.

 

Kabupaten Tulungagung menjadi wilayah penyumbang peserta terbesar dengan 898 orang. Sementara Trenggalek menyumbang 54 peserta dan Pacitan sebanyak 15 peserta.

 

Dominasi Tulungagung memperlihatkan kuatnya ekosistem pendidikan vokasi dan jejaring industri luar negeri yang mulai terbentuk di daerah tersebut. 

 

Banyak sekolah kini tak hanya fokus mencetak lulusan, tetapi juga aktif membuka akses kerja internasional.

 

SMKS Sore Tulungagung menjadi sekolah dengan kontribusi peserta terbesar. 

 

Total ada 717 peserta yang berasal dari sekolah tersebut, terdiri dari 517 peserta magang dan 200 alumni pekerja migran.

 

Selain itu, SMKN 1 Bandung Tulungagung menyumbang 259 peserta, SMKN 1 Tulungagung sebanyak 250 peserta, SMKN 2 Tulungagung 171 peserta, serta SMKN 2 Boyolangu sebanyak 57 peserta.

 

Menurut Khofifah, kondisi ini menjadi bukti bahwa lulusan SMK Jawa Timur kini semakin kompetitif dan mampu bersaing di tingkat internasional.

 

“Ini menunjukkan bahwa SMK di Jawa Timur tidak hanya mencetak lulusan siap kerja di dalam negeri, tetapi juga menjadi penyuplai talenta vokasi untuk pasar kerja internasional,” katanya.

 

Peluang kerja yang terbuka juga tidak lagi terbatas pada sektor informal. Para peserta disebut memiliki peluang bekerja di bidang manufaktur, teknologi, konstruksi, logistik, perhotelan, kesehatan hingga pertanian modern.

 

Khofifah bahkan mengungkapkan bahwa sejumlah negara kini mulai mencari tenaga kerja dengan keahlian khusus yang belum banyak dimiliki negara lain.

 

“Jerman saat ini membutuhkan tenaga kerja terampil di bidang pengelasan bawah laut, sementara Jepang membuka banyak peluang pada sektor pertanian dan industri,” ungkapnya.

 

Persaingan global tersebut membuat penguasaan bahasa asing dan kedisiplinan kerja menjadi tantangan utama yang harus dihadapi lulusan SMK. Sebab, tingginya kebutuhan industri internasional juga dibarengi standar kerja yang ketat.

 

Karena itu, Khofifah mengingatkan para peserta agar tidak hanya bekerja mencari penghasilan, tetapi juga membawa pengalaman dan ilmu baru saat kembali ke Indonesia.

 

“Selain bawa rezeki, bawa pulang ilmunya karena kalian pahlawan devisa serta jaga nama baik Bangsa Indonesia,” pesannya.

 

Program penempatan kerja luar negeri ini juga menjadi indikator bahwa pendidikan vokasi mulai bergerak lebih relevan dengan kebutuhan industri global. 

 

Pemprov Jawa Timur mendorong sistem pendidikan berbasis *link and match* agar lulusan tidak kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.

 

“Kita ingin generasi muda Jawa Timur tidak sekadar pencari kerja, tetapi menjadi sumber daya manusia unggul yang mampu menciptakan nilai tambah, memperluas jejaring dan membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat serta bangsa Indonesia,” tutur Khofifah.

 

Di sisi lain, keberhasilan ribuan siswa SMK diterima di pasar kerja luar negeri juga menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah.

 

Dunia pendidikan dituntut menjaga kualitas lulusan agar kepercayaan industri internasional terhadap tenaga kerja asal Indonesia tidak menurun.

 

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan tingginya penyerapan lulusan SMK di luar negeri menunjukkan kualitas pendidikan vokasi Jatim mulai diakui secara global.

 

“Ini menjadi kebanggaan dan pahlawan negara karena sebaran di berbagai wilayah di Jatim merata dan itu bukti nyata kualitas pendidikan yang diinisiasi Pemprov Jatim berkualitas dan bermutu,” kata Aries.

 

Ia menilai peluang kerja internasional masih terbuka lebar, terutama bagi lulusan yang memiliki kompetensi kuat dan etos kerja tinggi. Menurutnya, koneksi industri yang terus dibangun sekolah menjadi faktor penting terbukanya akses kerja global bagi siswa SMK.

 

“Kepercayaan dunia industri internasional harus dijaga dan tunjukkan lulusan SMK bisa dan hebat,” pungkasnya.

(spam)

TAMENG RAKYAT
Chat with us on WhatsApp