Teror Pocong di Jawa Timur Seram Tapi Hoax
SURABAYA // Masyarakat Nusantara dengan budayanya membuat beberapa cerita mistis begitu melekat. Teror Pocong kini masuk Jawa Timur.
Fenomena teror mistis yang viral lewat media sosial mengingatkan masyarakat pada trauma lama seperti ninja, kolor ijo hingga babi ngepet yang pernah membuat warga Jawa Timur dilanda kepanikan massal.
Polisi telah memastikan bahwa teror pocong yang viral di Jawa Timur adalah hoax, namun konten yang diduga dibuat lewat rekayasa untuk media sosial tetap menjadi perbincangan hangat, terutama kaum wanita, anak-anak, remaja hingga dewasa bahkan para tetua.
Penyebaran informasi liar di media sosial menjadi pemicu utama keresahan masyarakat, maka anda bertanggung jawab dengan apa yang anda teruskan.
Pernah ada Teror Kepala Babi, yang merupakan simbol hewan dalam tradisi Mafia.
Teror pocong di Jatim yang cukup meresahkan masyarakat, diduga sebagai modus kejahatan tersebut, dan telah masuk wilayah Malang, Pasuruan, Kediri, Lamongan, Bojonegoro, Jember dan Situbondo dan Surabaya.
Sebelumnya isu teror pocong pertama kali viral di wilayah Depok, Jawa Barat, Tangerang, Jakarta dan berlanjut muncul di sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Fenomena teror sosial dengan memakai hantu atau sesuatu bersifat mistis, klenik dan misterius dengan tujuan membuat keresahan bukan pertama kali terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Teror Ninja 1998
Fenomena ini paling terkenal di Jawa Timur, terutama di wilayah Banyuwangi. Orang-orang misterius berpakaian hitam disebut “ninja” dituduh membunuh dukun santet, tokoh agama, dan warga tertentu pada 1998, saat situasi politik nasional sedang kacau menjelang jatuhnya Presiden Soeharto.
Kolor Ijo 2003
Pernah membuat warga Ronda Massal
Teror kolor ijo pada medio 2003-2004, digambarkan sebagai pria misterius bercelana hijau yang masuk rumah warga dan memperkosa perempuan.
Babi Ngepet 1990
Fenomena teror babi ngepet ini juga sangat terkenal sejak era 1990-an hingga awal 2000-an. Masyarakat percaya ada orang yang berubah menjadi babi jadi-jadian untuk mencuri uang warga memakai ilmu hitam.
Isu Genderuwo dan Penculikan Anak Saat Reformasi
Pada akhir masa Orde Baru sampai awal Reformasi juga sering muncul sejumlah isu penculik anak untuk tumbal proyek.
Kemudian hantu genderuwo pemerkosa dan pencuri organ tubuh hingga isu orang asing yang menyebarkan santet.
Teror sosial ini berkembang pesat karena dipengaruhi situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil.
Lemahnya informasi resmi juga memperparah situasi, termasuk masih kuatnya budaya rumor yang tersebar dari mulut ke mulut.
Teror hoax tersebut beresiko menimbulkan fitnah, masyarakat harus menyikapinya dengan cerdas dan bijak.
Related Articles